WebGIS · Kesehatan Masyarakat

Sistem Informasi Sebaran Kasus dan Kerawanan
Penyakit Tuberkulosis (TBC) Kabupaten Luwu Utara

Memetakan sebaran kasus dan tingkat kerawanan TBC di setiap kecamatan berdasarkan jumlah kasus, kepadatan penduduk, sanitasi lingkungan, akses fasilitas kesehatan, dan status gizi masyarakat — agar Dinas Kesehatan, tenaga kesehatan, dan masyarakat dapat menentukan wilayah prioritas intervensi secara interaktif dan real-time.

7.502,58 km²
Luas Wilayah
15
Kecamatan
217
Kasus TBC Terkini
19
Fasilitas Kesehatan

Profil Kesehatan Kabupaten Luwu Utara

Kabupaten Luwu Utara merupakan salah satu wilayah di Provinsi Sulawesi Selatan dengan luas wilayah 7.502,58 km2 dan jumlah penduduk sekitar 333.127 jiwa (estimasi BPS pertengahan 2023), terdiri atas 15 kecamatan dengan kondisi geografis dataran rendah hingga pegunungan.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Luwu Utara, kasus notifikasi TBC menunjukkan tren meningkat dalam lima tahun terakhir: 322 kasus (2020), 361 (2021), 507 (2022), 474 (2023), hingga 693 kasus (2024). Kecamatan Masamba, Baebunta, Sukamaju, dan Bone-Bone konsisten mencatat jumlah kasus tertinggi setiap tahunnya.Sistem Informasi Geografis (SIG) berbasis WebGIS ini dikembangkan untuk memetakan sebaran kasus dan tingkat kerawanan TBC secara interaktif per kecamatan dan per tahun, sehingga dapat digunakan oleh Dinas Kesehatan, tenaga kesehatan, dan masyarakat sebagai dasar pengambilan keputusan dan perencanaan intervensi kesehatan yang lebih tepat sasaran.

Metodologi

Empat Indikator Penentu Tingkat Kerawanan TBC

Tingkat kerawanan TBC pada sistem ini ditentukan berdasarkan empat indikator utama yang berpengaruh terhadap penyebaran penyakit di setiap kecamatan.

Jumlah Kasus TBC

Jumlah kasus terkonfirmasi dan terduga TBC per kecamatan, digunakan untuk mengukur tingkat penyebaran penyakit di suatu wilayah.

Kepadatan Penduduk

Kepadatan penduduk menggambarkan potensi kontak antarindividu yang dapat meningkatkan risiko penularan TBC.

Akses Fasilitas Kesehatan

Jarak dan ketersediaan Puskesmas berpengaruh terhadap kecepatan deteksi dini dan penanganan kasus TBC.

5 Kecamatan Sangat Rawan

Wilayah dengan kombinasi indikator di atas paling berisiko, menjadi prioritas utama intervensi kesehatan.

Edukasi Kesehatan

Mengenal Tuberkulosis (TBC)

TBC adalah penyakit menular yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis, umumnya menyerang paru-paru dan menular melalui percikan dahak (droplet) saat penderita batuk atau bersin. Mengenali ciri-cirinya sejak dini dan menerapkan langkah pencegahan dapat menekan penyebaran kasus di masyarakat.

Poster Edukasi Bersama Cegah dan Atasi TBC - Kemenkes RI

Ciri-Ciri Orang Terkena TBC

  • Batuk berdahak yang tidak sembuh lebih dari 2 minggu, kadang disertai darah
  • Demam meriang berkepanjangan, terutama menjelang malam hari
  • Berkeringat malam hari meski tanpa aktivitas berat
  • Berat badan turun tanpa sebab yang jelas
  • Nafsu makan menurun
  • Sesak napas dan nyeri dada
  • Badan terasa lemas dan lelah terus-menerus

Bila mengalami gejala di atas, segera periksakan diri ke Puskesmas/fasilitas kesehatan terdekat untuk pemeriksaan dan diagnosis oleh tenaga medis.

Cara Pencegahan TBC

  • Imunisasi BCG pada bayi sesuai jadwal
  • Menjaga ventilasi & pencahayaan rumah agar udara dan sinar matahari masuk
  • Menerapkan etika batuk/bersin (menutup mulut, gunakan masker bila batuk berkepanjangan)
  • Memeriksakan diri sedini mungkin bila muncul gejala mencurigakan
  • Menjaga daya tahan tubuh dengan gizi seimbang
  • Menghindari kontak dekat & berlama-lama dengan penderita TBC aktif yang belum diobati
  • Bagi penderita: menyelesaikan pengobatan TBC sampai tuntas agar tidak menular ke orang lain

Informasi ini bersifat edukatif umum dan bukan pengganti diagnosis atau anjuran tenaga medis.